Pertengahan Oktober tahun 2018 yang lalu saya mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti workshop di Kathmandu, Nepal. “Wah, Nepal!” batin saya saat mendapat kabar ini sekitar dua bulan sebelum akhirnya berangkat ke sana. Dari dulu saya selalu tertarik melakukan street photography di negara-negara Asia Selatan seperti Nepal dan India. Meski sebelumnya pernah mendapat kesempatan melakukannya di Colombo, Sri Lanka dan Dhaka, Bangladesh (meski hanya lewat dalam mobil yang berjalan karena waktu yang terbatas), akhirnya saya punya kesempatan lagi di Nepal!

Selain kesempatan memotret suasana Kota Kathmandu, orang-orang pasti akan berpikir kenapa tidak lanjut menjelajahi Himalaya? Lagi-lagi waktu saya terbatas (dan juga tidak berani bertaruh dengan pengalaman naik Gunung yang terbatas).  Berhubung ini adalah perjalanan dinas dari kantor, tentu prioritas utama adalah menunaikan tugas terlebih dahulu. Jadi, memotret Kota Kathmandu hanya saya lakukan di kesempatan-kesempatan terbatas dan extend satu hari di sana. Sayangnya, ada urusan lain yang harus segera dikejar lagi di Jakarta setelahnya.

Dengan waktu satu hari yang saya dedikasikan penuh untuk memotret Kathmandu, apa yang saya dapat?

Kurang lebih, area yang saya eksplor tergambar dalam peta di bawah. Ada tiga titik utama yang saya jelajahi dalam sehari, yaitu Durbar Square, Swayambhu, dan Thamel. Lalu, ada dua fokus eksplorasi saya, yaitu kuil (temple) dan jalanan. Kuil atau temple yang banyak tersebar di kota dengan mayoritas penduduk Nepal yang beragama Hindu dan Buddha tentu menjadi objek yang menarik karena arsitektur dan kulturnya yang khas. Selain itu, jalanan di Kota Kathmandu menawarkan suatu visual dengan kultur dan atmosfer yang belum tentu dapat ditemukan di tempat lain.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kita bisa menemui banyak kuil di berbagai sudut Kathmandu. Salah satu titik yang menarik ada di daerah Durbar Square. Daerah ini termasuk daerah turis dan cukup terkenal karena merupakan jantung kota tua Kathmandu sehingga arsitektur bangunan-bangunan di sini cukup khas dan atraktif. Di sini terdapat beberapa kuil yang menarik untuk dipotret. Favorit saya adalah Jagannath Temple yang dipenuhi oleh burung merpati. Sebagai catatan, area ini cukup terdampak oleh gempa hebat yang terjadi di tahun 2015 dan sampai sekarang masih dapat dilihat proses rekonstruksi beberapa bangunan di sana.

Di area Durbar Square ini juga ada banyak biksu atau biarawan. Beberapa di antaranya ada yang disebut sebagai Sadhuyaitu orang yang memutuskan untuk fokus menjalani kehidupan spiritual. Para Sadhu ini hidup dengan sedekah dari orang-orang. Biasanya, warga setempat akan meminta Sadhu untuk mendoakan mereka dan kemudian mereka akan memberikan sejumlah uang sebagai gantinya. Uniknya, beberapa Sadhu juga menawarkan jasanya untuk dijadikan objek foto para fotografer. Setelah diambil gambarnya, maka fotografer atau turis harus memberikannya imbalan (seikhlasnya). Praktik ini sebenarnya agak menimbulkan perdebatan karena ada beberapa Sadhu yang meminta imbalan lebih sehingga konsep melepaskan hasrat duniawinya menjadi pertanyaan. Anyway, let’s not get too far on this.

Jika ingin merasakan atmosfer yang lebih lokal lagi, cobalah menelusuri jalan-jalan di sekitar Durbar Square ini, khususnya jalan-jalan kecilnya. Saat itu saya menginap di Hotel Annapurna yang terletak di area DurbarmargUntuk mencapai Durbar Square, saya memilih mengambil rute menelusuri Siddhidas Marg yang cukup ramai pejalan kaki. Koridor ini diisi dengan banyak toko-toko kecil, bahkan cenderung seperti pasar karena orang-orang menggelar jualannya di jalanan begitu saja. Saya melewati area ini saat pagi hari dan banyak sekali orang berdagang dan berbelanja. Selalu ada banyak momen yang bisa ditangkap di area pasar seperti ini. Ibaratnya, tinggal tengok kanan kiri, banyak pemandangan menarik dengan karakter lokal yang kuat.

Ternyata, saat saya kembali dari Durbar Square menuju ke penginapan dan melewati rute yang sama, atmosfernya cukup berbeda. Jalanan jauh lebih ramai di siang hari dibandingkan pagi hari. Orang-orang berlalu lalang berpergian seperti lautan manusia. Uniknya, tetap ada kendaraan bermotor yang menerobos kerumunan ini.

Bahkan, di tengah gang-gang sempit Kathmandu, kita juga bisa menemukan kuil-kuil dengan arsitektur yang menarik. Tentunya dengan bantuan Google Map, saya mencoba melihat-lihat kuil-kuil apa saja yang berlokasi dekat dengan tempat saya menginap. Ternyata banyak sekali kuil-kuil di tengah permukiman penduduk. Analoginya sama seperti di Indonesia, berhubung mayoritas penduduknya beragama Islam, maka tempat ibadah seperti masjid akan mudah ditemukan. Begitu juga di Nepal, kuil-kuil Hindu dan Buddha sangat mudah ditemukan di sini.

Selain kuil-kuil di Durbar Square dan sekitarnya, di siang hari saya menyempatkan mampir ke Swayambhunath Temple yang letaknya agak lebih jauh. Kuil ini terletak di sebelah barat dan lokasinya cukup tinggi di atas bukit sehingga dari atas kita bisa melihat pemandangan Kota Kathmandu yang berbentuk lembah. Untuk menuju ke sini saya memutuskan naik taxi lokal saja karena jaraknya yang cukup jauh.

Daya tarik utama dari Swayambhunath Temple adalah stupa utama berbentuk kubah yang menyangga suatu struktur kubus yang dilukis dengan mata Buddha yang memandang ke empat arah. Untaian bendera warna-warni yang cantik juga menjadi ciri khas, tidak hanya di kuil ini, tapi di banyak sudut lain di Kathmandu. Bendera-bendera ini bukan sekedar dekorasi, tapi punya makna tersendiri. Orang asing biasanya menyebutnya dengan istilah prayer flags atau bendera doa yang merupakan potongan-potongan kain berwarna dan bertuliskan doa, mantra, dan simbol keberuntungan. Warga setempat, khususnya umat Buddha, percaya bahwa saat bendera doa tersebut tertiup angin maka doa-doa yang telah dipanjatkan di sekitarnya akan dibawa ke tempat tinggi di atas. Ternyata maknanya cukup dalam ya.

Beberapa turis asing menyebut kuil Swayambhunath ini sebagai Monkey Temple karena areanya banyak dihuni oleh para kera. Saran saya sebaiknya jangan gunakan istilah ini apalagi saat berbicara dengan masyarat lokal di sana. Teman saya yang warga asli sana bilang, meski mungkin bagi orang asing lebih mudah mengingat dengan nama itu, tapi sebenarnya menyebut Swayambhunath Temple dengan istilah Monkey Temple dianggap kurang sopan. Anyway, kuil ini cukup terkenal dan merupakan salah satu landmark di Kathmandu. Jadi, cukup banyak turis yang datang ke sini dan juga banyak toko suvenir seperti daerah wisata pada umumnya.

Di sore sampai malam hari, saya mencoba menghabiskan waktu di area Thamel. Ternyata, area ini adalah area para backpacker. Banyak penginapan-penginapan murah, termasuk kawasan komersil yang menjual berbagai barang khas untuk oleh-oleh. Sangat mudah untuk mencari makan di sini. Salah satu yang wajib dicoba adalah Mo Mo! Makanan khas Nepal ini sebenarnya semacam dumpling yang tersedia dalam berbagai isian seperti daging dan sayuran. Menjelang makan malam, saya memanfaatkan waktu untuk sedikit berbelanja barang-barang khas yang bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Fakta yang kurang menyenangkan dari Kathmandu adalah statusnya sebagai kota dengan polusi yang buruk, nomor 5 di dunia. Bahkan, kota berpopulasi sekitar 1 juta penduduk ini memiliki julukan sebagai “dust bowl“. Dari artikel yang saya baca dan juga info dari teman yang tinggal di sana, masalah debu ini disebabkan oleh kegiatan pembangunan yang cukup masif, terutama akibat konstruksi bangunan dan pengembangan jalan. Sayangnya, proses konstruksi yang berlangsung bersamaan di berbagai tempat ini kurang terkelola dengan baik sehingga menyebabkan debu yang cukup tebal. Saya sendiri tidak bisa bertahan lama berada di luar gedung, apalagi lebih dari 3 jam berjalan di luar. Badan dan muka terasa cepat kotor, khususnya di siang hari. Jadi, kalau ingin mengeksplorasi Kathmandu, pastikan untuk mengatur waktu jeda beristirahat. Misalnya kembali ke penginapan atau mengembalikan tenaga di tempat makan sebelum melanjutkan agenda outdoor.

Terlepas dari debunya yang tebal, menjelajahi jalanan Kathmandu terasa menyenangkan bagi saya. Meskipun bahasa nasional di sana adalah Nepali, mayoritas warga bisa berbicara Bahasa Inggris karena tingkat kunjungan turis yang sangat besar, khususnya yang ingin pergi ke Himalaya. Di tahun 2018 sendiri, kunjungan turis asing mencapai angka 1 juta dalam satu tahun tersebut. Sektor pariwisata merupakan sektor penting yang mendatangkan pendapatan baik bagi negara maupun warga setempat. Maka dari itu, penduduk Nepal berusaha untuk memastikan turis betah di sana dan mau kembali lagi. Jadi, berjalan-jalan di sini bisa dikatakan cukup aman. Orang-orang di sini juga sangat ramah dan akan dengan senang hati membantu jika diminta. Bahkan, dalam konteks street photography, warga Nepal termasuk tipe yang tidak keberatan diambil gambarnya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Meski demikian, kita harus tetap jaga etika dan menghindari perbuatan yang membuat orang lain tidak nyaman.

Bagi teman-teman dari Indonesia yang mau pergi ke Nepal, proses imigrasinya tidak sulit kok. Kita bisa gunakan Visa on Arrival (VoA) saat tiba di bandara setempat sehingga tidak perlu mengurus dokumen-dokumen sebelum keberangkatan (tentunya harus punya paspor). Biaya visa Nepal bervariasi mulai dari 25 USD (untuk 15 hari), 40 USD (untuk 30 hari), sampai 100 USD (untuk 90 hari). Lengkapnya bisa dicek di sini.

Andai saya punya waktu lebih, masih banyak hal yang bisa dilihat dan dijelajahi di sini. But overall, it was a very nice experience.

Ada yang tertarik melakukan street photography di Kathmandu? Semoga bisa mencoba dan merasakan sensasinya!

Namaste.

Advertisements

4 Comments

  1. Wah selalu seru yaa jalan ke Nepal. Saya juga. Dan saya juga tadinya gak yakin bisa trekking ke Himalaya, ternyata pelan-pelan bisa juga hehe. Jika ada waktu lagi, coba deh kesana lagi, coba trekking, hasil fotonya bakal luar biasa. So cultural di kota, landscape di pegunungan… Salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s